Tuesday, December 30, 2008

Keceng



Selama kira-kira 15 tahun dalam hidupku, aku udah puas dipanggil dengan panggilan "keceng" dan bentuk-bentuk turunan ataupun integralnya, seperti:

- kurus
- lunglit (balung - kulit) *balung artinya tulang
- cungkring
- biting *artinya lidi
- pesakitan -_-
- pengungsi Afrika T_T
- junkies
- dan seterusnya, dan seterusnya

Aku, yang dari lahir sampe kelas 1 SD terhitung ndut (berat lahirku aja 3.1 kg padahal panjangku cuma 48 cm, bayangkan!!) tiba-tiba sejak mau naik kelas 2 SD, kata ibu, mulai mengurus. Padahal masih kata ibu, yang namanya susu itu aku doyan banget. Mulai dari susu KLIM (masih ada ga ya susu ini?), susu LLM, Dancow, Frisian Flag, sustagen HP, sustagen junior; dari yang tanpa rasa sampe rasa coklat strawberry tutti frutti... semuanya masuk ke perutku. Mau dimimik dingin, anget, sampe digado - yes, susu bubuk disendok langsung dari kaleng atau dimakan di piring kecil :D - semuanya mah ayok aja. Pokoknya susu mania. Siang malem mik susu! Tapi emang, dulu kalo masalah makanan diriku milih-milih banget. Gak doyan sayur, ga doyan buah, maunya daging - nasi - mie. Padahal dipikir-pikir ga masuk akal: bukannya kalo makannya daging dan mimik susu itu harusnya tambah ndut ya? -_-

Long story short, akhirnya tubuhku terus menciut sampe SMA. Cungkringnya gak karu-karuan. Mana aku ini pendek, kecil. Klop sudahlah segala jenis julukan yang menyakiti hati mampir ke kupingku. Apalagi kalo udah momen arisan keluarga. Pengen nangis aja denger eyang-eyangku atau om-tanteku nyeletuk:

Kurus banget kamu, mbak. Makan yang banyak ini lho

Kok keceng banget anakmu, mangane angel yo

Ayo ini jajannya habisin Ca, awak lunglit ngene

Haiyaa.. sedih banget pokok'e :(

Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah, kok ya aku ditakdirkan pindah ke Belanda.
Tahun pertama, badanku emang belum menggendut. Tapi aku dah mulai doyan sayur buah. Sebenernya sih kepepet, habisnya beli sayur kan lebih hemat drpd daging :D Yang jelas, pas taun pertama ini konsumsi produk susuku gila-gilaan. Namanya juga tinggal di belanda, yang namanya keju-mentega-susu-vla-eskrim kan enak banget. Terutama aku doyan banget vla! Bahkan susu aku substitute dengan vla. Instead of mik susu, mimiknya vla. Waks o_O

Tahun kedua, tubuhku mulai menunjukkan perubahan signifikan. Hehehe...

Tahun ketiga, balik ke Indonesia buat stage. Entah kenapa, aku jadi kurus lagi. Padahal yang namanya makan masih sama rakusnya.

Balik ke Belanda lagi th ke empat, sampe sekarang, tubuhku menggendut lagi. Walaupun naik-turun. Kalo pas summer turun, pas winter naik lagi.

Yang jelas, bye-bye keceng days. Jujur aku senang banget. Makanya kadang aku suka heran kalau ada teman-teman yang komplain dengan tubuhnya yg katanya endut lah, padahal lo.. biasa-biasa aja. Belum pernah ngrasain keceng kayak aku sih! Wong aku aja pengen ndut, temans.

Ada motif-motif revenge juga seh dibalik itu. Jadi kalo pas lagi pulang Indo, ketemu sama saudara-saudara yang dulu ngenyek aku keceng-lunglit-pengungsi Afrika, sekarang komentarnya:

Montok ya, kamu.
Hihihi... *senang*

Yang aku masih ga bisa ngerti itu, kenapa ya kok aku di Indonesia ga bisa gemuk tapi di Belanda bisa. Apa karena suhu yang lebih dingin? Atau makanan di Belanda lebih bergizi?

Trus kenapa kok dulu tubuhku menggendut begitu pindah kesini. Apa emang bener itu pengaruh sayur-buah yang mulai aku konsumsi sejak disini, atau karena emang pengaruh umur aja? Katanya kan, kalau perempuan, setelah umur 20-an hormon estrogennya lebih aktif. Konon, hormon inilah yang memicu tubuh perempuan jadi menggendut. Benarkah?

Thursday, December 25, 2008

Puas, bahagia, sukses, atau apalah




"Eh, katanya si A keterima kerja di perusahaan X ya?"
"Iya."
"Hebat yaaaa? Waw... bla bla bla..."
"Err...," *mendengarkan dengan gak minat*

"Ya." *akhirnya memilih berkomentar singkat*

Too many times! I heard people commenting on other's achievements.

Salahkah diriku? Kalau sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal "besar" yang dicapai mereka?
Salahkah diriku? Kalau nggak ngiler menginginkan so-called "kesuksesan", atau apalah yg dinilai "sukses" menurut orang lain?

Menurutku,

Kita baru bisa iri sama orang lain ketika misalnya dia kehilangan nyawa waktu lagi volunteer menyelamatkan korban bencana alam....
Atau mendirikan sekolah untuk orang-orang miskin, dan rela harta benda waktu dan tenaga semuanya tercurah untuk kepentingan mereka...
Atau menginspirasi orang lain dengan ilmu yang berguna...

Daripada kalau ada yg keterima kerja di perusahaan besar, jadi eksekutip muda, atau apalah itu.

Lebih baik nih ya, daripada hidup penuh so-called "achievements" itu...

Enakan bisa hidup bahagia, adem ayem aman tentram, setiap hari..
Being loved, and loving other people..
Dan kalau sudah begitu, kebahagiaan seringkali muncul justru lewat hal-hal sederhana,
Seperti misalnya menikmati jalan kaki di kanal-kanal sepanjang negenstraatjes sore hari, waktu matahari terbenam dengan indahnya,
Sipping a good coffee and having good laugh with friends,
Holding my husband's hands while we walked to the tram station.

I think happiness doesn't start from achieving what others can...
But it starts from ourself.

When we could value what we achieve every single moment - no matter what it is
When we could accept and respect ourself, be humble and true to ourself
When we're able to enjoy anything we do, every second and everyday
and to love the ones who love us :)

Tuesday, December 23, 2008

God of Fear a la Hirsi Ali


Setelah baca buku ini, cuma satu statementnya si Hirsi Ali yang "nggantung" di otakku.
Bahwa hubungan antar mahluk dan pencipta yang diajarkan di Islam adalah hubungan "takut". Bahwa to praise God, is to fear Him.

Benarkah?

Hmm. Kesimpulan yang diambil si Hirsi itu, mungkin dari pengalamannya sendiri semasa kecil. Growing up in Somalia, dimana sumber daya manusia rendah, I could imagine kebanyakan orang kecerdasannya kurang.

Orang yang mungkin kecerdasannya kurang, gak bisa kalau disuruh beragama dengan disodori konsep-konsep ilmiah dan logis tentang tuhan dan penciptaan dunia serta seisinya. Maka dari itu, mereka diajarkan moral agama dengan konsep lain. Kadang memang pendekatan yang terbaik, adalah dengan meniru sistem law enforcement. Yaitu menekankan ancaman akan hukuman dari Tuhan jika mereka berbuat jahat. Nah mungkin nih ya, mungkin, si Hirsi Ali mengambil kesimpulan seperti itu karena itulah fakta yang terjadi di lingkungan sekitar dia.

Padahal, tentu saja itu cuma satu jenis pendekatan. Masih banyak cara-cara lain dalam mempraktekkan Islam.

Terkadang, kalau kita melihat orang-orang yang cenderung "literal" dalam mengartikan ajaran Islam dan al-quran, kita seolah-olah melihat bahwa Islam itu keras. Kita lihat semuanya paksaan. Kalau kita nggak menuruti, maka Tuhan akan marah. Yang lupa kita selidiki adalah: benarkah itu esensi Islam? Benarkah ketakutan dan paksaan itu adalah esensi Islam?

Jawabnya: ya bukan laaaah! Bukan ketakutan dan paksaan itu yang lantas jadi esensi dan maksud ajaran Islam, gara-gara ada orang yang kelihatannya "terpaksa" untuk menjalani ajaran itu. Mereka menuruti ajaran itu karena mereka sepakat bahwa itulah yang benar. Itulah yang mereka setujui. Bukannya karena mereka takut atau apalah itu. Esensi Islam adalah kesepakatan untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Dan aku rasa, ini esensi semua agama deh. Kristen, Budha, Hindu, Katolik... pasti mengajarkan kebaikan. Dan apakah ketika kita melakukan hal-hal yg baik yg dapat untungnya Tuhan? Ya jelas nggak laaah... yg dapet untung kan kita sendiri sebagai manusia, sebagai mahlukNya. Bayangkan, keuntungan kita berlipat: di dunia kita hidup berdampingan dengan manusia lain dg tentram damai, dan di kehidupan setelah dunia pun begitu. (insyaAllah amin..)

Siapa coba yang gak mau kehidupan di dunia yang aman, tentram, damai?
Bayangkan kalau ga ada orang yang suka korupsi. Enak kan?
Bayangkan kalau ga ada orang yang suka sirik sama orang lain. Enak kan? :D

Kadang memang ada manusia yang perlu ketakutan itu. Mereka harus takut untuk berbuat salah, agar mereka mau berbuat yang baik. Tapi alangkah indahnya jika semua manusia berbuat baik karena mereka senang berbuat baik. Itulah sebenarnya maksud dari paksaan-paksaan itu. Tuhan itu ada bukan untuk ditakuti, tapi untuk dicintai. Saat kita cinta padaNya, kita akan senang hati melakukan hal-hal yang diperintahkan olehNya. Karena perintah-perintah Dia, ya untuk kebaikan kita sendiri.

Nah begitu, mbak Hirsi Ali. Hehehe...
Ngomong2 gimana ya kabarnya tuh orang sekarang?

Tuesday, December 9, 2008

Hamil?

(bukan, bukan. bukannya aku hamil :D)

Sering ya ngliat teman2 yg juga barusan nikah, dan langsung mblendung.

Ada seh yg emang pengen punya cepet-cepet. Hey, I don't judge them. Kalo emang dah siap, why not?
Ada juga yg jebolnya gara2 pake sistem kalender. Gak heran laa, sistem kalender kan emang rawan jebol. Kecuali kalau udah ada device pelengkap seperti remote control kayak gini:


(thanks to Mr.Gobi at deviantart for the idea :D)

Sebaiknya hindari sistem kalender lah ya. Mending nggaji "sie keamanan", murah kok. Sebulan cuma 9 euro untuk 12 personel. 12 personel cukup kok untuk 24 hari. (wakaka, udah tau detailnya, maklum2 :D)

Bgmn dg aku dan komar? Well, kami emang ga berencana punya dulu. Banyak lah alasannya. Diantaranya, belum siap secara ekonomi. Masa anak kita lahir dibawa pulang ke kamar Uilenstede. Kasihan kan. Lagian, program tabungan pendidikan buat anak belum terlaksana. We're on our way, though, tapi masih ngisi deposito dulu di Indonesia. (Kalo lancar, tahun depan kami sudah bisa apply untuk asuransi pendidikan). Secara mental... well, kami ngrasa masih butuh waktu untuk "settling down" dg kehidupan baru kita. Hal yang bakal sulit pol, if not impossible, dilakukan kalau anak udah ada. Kalo ada bayi, boro2 cari waktu luang buat diskusi dan tukar pikiran, yg ada juga lactating-diapers-poopee-and-crying-fest-yahoos. Pacaran dan pendekatan was one thing, but marriage is a whole different process. Kami masih butuh waktu untuk "settling down" dengan situasi dan komitmen baru ini :)

Alasan lainnya, masih ada planning gede yg belum "jejeg". Ini masalah bisnis & usaha masa depan. Intinya, saat2 sekarang itu masa2 kami berdua berjuang. Kalo ada anak, konsentrasi kita bakal terpecah. Daripada anak ga keurus dg maksimal, dan kita ga fokus, kan mending nunda dulu. Apalagi planning ini juga berhubungan banget dg financial security kami, yg pastinya buat kelangsungan masa depan anak juga.

Jadi walaupun keluarga (baca: eyang-eyang) udah minta-minta, kami tetep nguat2in hati buat bilang "nanti dulu yeeee...". Walaupun emang, itu susah banget.
Kami tetap jelaskan baik2, InsyaAllah ini buat kebaikan si anak juga kok :)
Untungnya kami hidup juawuuuuuuh dari keluarga, jadi tuntutan keluarga bukan masalah gede buat kami. Kan ga ketemu tiap hari jadi ga ditagih tiap hari... kyakakaka :P

Nah, bagaimana dg yg cepet mblendung?
Kalo yg udah siap mentally-financially, gak masalah. Kalo cuma siap financially aja, mending take time dulu lah 1-2 tahun. Ibuku pernah bilang:

Bapak dan ibu dulu ga sempat punya waktu berdua buat saling mengenal dan mempelajari perbedaan masing2. Soalnya dua bulan nikah ibu udah hamil. Begitu hamil, keadaan udah beda.
Dan perbedaan2 yg gak pernah sempat "dipelajari" ini ternyata ngefek ke kehidupan pernikahan mereka (yg sekarang usianya udah 25 tahun).
Terutama masalah komunikasi dan keterbukaan. Karena mereka dulu ga ada waktu untuk "menelusuri" cara masing-masing berkomunikasi (yg ternyata totally berbeda), akhirnya terbawa-bawa sampai sekarang. Apalagi mereka cuma pacaran setahun, itupun jarak jauh di tahun 1983-1984 yang fasilitas email-chat-handphone-sms belum ada. Wong nomer telpon aja masih 5 digit :D

Begitu...

Yah, aku ngerti banget kalo ada yg langsung mblendung karena tuntutan keluarga. Emang susah kok untuk "tidak menuruti keluarga" apalagi orang tua, di Indonesia. Beban moralnya itu lho. Belum kalo mulai diomongin orang. Aaaah, jadi pengen nyetok sandal jepit buat dijejelin ke mulut (walah, berlebihan).

Tapi ada juga contoh orangtua atau keluarga yang lebih harmonis karena kehadiran anak. Ini juga patut jadi masukan. Intinya, kasus dan penyelesaian tiap orang beda-beda lah. Yang bisa kita lakukan cuma ambil contoh yg baik2 aja. Contoh dari orangtuaku, misalnya, cuma satu kasus aja. Ambil hikmahnya yg bagus. Tapi aku yakin banyak orangtua teman-temanku yg juga langsung mbrojol, hanya saja berakhir baik :) Nah dari mereka, kita juga ambil hikmahnya yg bagus.

Intinya, think carefully before you decide to... ehm, "spread the jam to the bread" :D


Sunday, December 7, 2008

my myers-briggs test

Thanks to ulm, I recalled my memory about this test, from one of Craig Whittaker's class. The glorious Personal-Development-Plan. (Gee, seems like billion years ago).

The name of the test, somehow, distantly.. rang my bell. Why distantly? Cause I remember the name... but I didn't remember taking the test. I totally can't recall what my result was.

So there I was, googling "myers-briggs+test". Et voila, one of the result directed to an online test. Anddd I gave it a go. So what does it say?


Introverted iNtuitive Feeling Judging

Hmm.

When I went on to read the explanation, at first I was surprised many times of what it says.
"Neaah, this can't be right. I should retake the test."
But somehow, it ended up like an eye opener. "Wow. I never thought of it like that, but its true. This is so me."

To be honest, I've been trying to rediscover my personality for the past months. Ever since I was depressed, badly depressed, with my study (yes, I was, dear. it's a long story).

Long story short, I really tried to consult my opportunities in this field, with my most trusted mentor. Then I realized this is not my strength. But it's too late. The fact that I know I have lost all this years to something useless, something that is not of my strength, had bummed me.

But the fact that I know I wasn't being true to myself and other people had bummed me even more.

I feel like I don't know myself anymore.

Who am I? The q I had constantly find myself asking. Why have I been acting intuitive towards other people? Why do I always act aloof once I feel uncomfortable in a social environment? Why can't I just act nice at least pretend to be nice? Why do I always want anything I do to be straight from the start? Why do I always try to be hard to myself and to other people?

...the empathic abilities often found in Fs...can serve as a classic example of the two-edged nature of certain INFJ talents, as it can be strong enough to cause discomfort or pain in negative or stressful situations.
Me? Empath? It maybe kinda true, cause I indeed can't take negative situation. *recalling my second internship in "hell"... pffff*
...at intervals INFJs will suddenly withdraw into themselves, sometimes shutting out even their intimates. This apparent paradox is a necessary escape valve for them, providing both time to rebuild their depleted resources and a filter to prevent the emotional overload...
That is so true.

And the I and J combination, while perhaps enhancing self-awareness, may make it difficult for INFJs to articulate their deepest and most convoluted feelings. Usually self-expression comes more easily to INFJs on paper...
I'm not much of a writer anymore these days, but yeah. True.

...they also have external sensing perception... however, is the weakest of their arsenal and the most vulnerable... they may be so absorbed in intuitive perceiving that they become oblivious to physical reality... under stress, they may fall prey to various forms of immediate gratification.
Again, true. :)

----------

For those who want to take the test (or re-take, cause yeah, we do change from time to time), try it here: http://www.humanmetrics.com/cgi-win/JTypes2.asp

Thanks, ulm.

Saturday, December 6, 2008

Haters yang bergentayangan




If two people never met, how would they know each other well enough to hate each other?

Seriously.

Acara bloghoppingku jadi amat sangat terganggu, dengan pemandangan saling-caci-saling-hina yang biasanya terjadi di comment/shout box. Dan sangat bisa ditebak, biasanya yang ninggalin hinaan-hinaan macam gini gak pernah lah ninggalin identitasnya. Kalaupun nulis nama, bisa jadi nama palsu. Dan GAK PERNAH ninggalin URL blog, apalagi alamat email. Iya lah, mana ada maling minta disambangi di penjara?

Kalo dulu, setauku, kayak gini kejadian di blog-blog yang "memuat" ulasan-ulasan tentang Islam. Dan bisa dipastikan, ini lagi2 motif saling cerca gak jelas antara kubu pro-liberal vs pro-non liberal. Hey, bukannya aku ini membela salah satu kubu atau gimana. Tapi, aduuuuuh. Kok jadi kayak anak kecil ya kesannya. Ngelempar batu diam2 atau surat kaleng. Daripada saling cerca di blog yang akhirnya jadi debat kusir gitu, kenapa nggak bikin acara diskusi atau debat terbuka aja. Kan lebih berguna, bisa cari penyelesaian dengan baik, saling tatap muka (sekalian silaturahmi), masing2 juga bisa saling belajar dari yang lainnya. Bukannya dengan diskusi langsung, kita bisa saling lebih mengenal background lawan diskusi kita.

Atau mereka gak mau kali ya, saling mengenal dan saling lebih tahu satu sama lain.
Duh susah, ya. Diajak ke arah lebih baik malah gak mau. Manusia itu emang egonya gede, ya. (emang sini bukan manusia? :D :D)

Nah, kalo dulu cuma berkisar di pro-lib vs pro non-lib sekarang gimana?
Kayaknya se, sekarang kok tambah parah ya.
Gak cuma perang antar ideologi, tapi ternyata ada haters juga di zona blog lain seperti blog kuliner, blog pribadi, dll. Yang ngelek-ngelek bahasa inggrisnya lah, yang bikin gosip2 ga jelas lah. Biasanya ini kejadian di blog2 yang visitornya rame, yang bukan kalangan sendiri - banyak orang "asing"nya lah. (salah satu alasan kenapa kok aku lebih seneng kalo pengunjung blogku ya orang2 yg dah kukenal :D)

Swear, aku heran.
Apa seh gunanya ya, jadi hater?
Apa seh gunanya ya, cuma mengenal satu sisi cerita?
Kalo belum tau sisi lain sebuah cerita, kenapa buru-buru memihak satu sisi aja?
Kenapa harus tutup mata tutup telinga kayak gitu?
Bukannya lebih baik dengar dulu cerita di sisi lain, baru deh kita bisa mikir dan memutuskan sebaiknya kita ambil sisi mana?
Seenaknya naruh label ini, itu di jidat orang/ kelompok tanpa tau itu mereka sebenarnya gimana.

Atau emang bener istilah "sirik tanda tak mampu" itu kenyataan? -_-

Ah sudahlah. Haters aja gak berguna apalagi ngurusi haters :D Mending memulai "acting positive" dari diri kita sendiri. Be a love generation. Rite?

*gambar "kucing pembenci" diambil dari nataliedee.com